Sabtu, 07 Maret 2009

qurnia

qur nia tanya kok di blog fataisy aljihad ada templet ya
nggak pengaturan gimana
sorry nggangu di blog mu soalnya aku nggak tahu alamat email mu sih

Rabu, 04 Maret 2009

J-Rocks Beraroma Jepang

Sabtu, 28 Februari 2009 pukul 11:49:00

Penampilan dan aksi mereka disebut-sebut mirip L'Arc en Ciel.

Jepang bak sebuah obsesi untuk keempat anak muda itu: Iman Taufik Rachman, Swara Wima Yoga, Sony Ismail Robbavani, dan Anton Rudi Kelces. Mereka menyukai segala hal dari negeri Sakura itu, mulai dari musik hingga anime.

Kegemaran pada musik itulah yang akhirnya mampu menyatukan mereka. Dengan posisi Iman (vokalis), Wima (Bassis), Sony (Gitaris), dan Anton (drummer), mereka menyatu membentuk grup band. Hingga pada November 2003, mereka mengikuti sebuah festival musik nasional. ''Saat itulah kita pertama kali manggung dan menyatakan saat itu juga kelahiran J-Rocks,'' kata Iman.

Saat pentas mereka masih menggunakan nama J-Rockstar. Sebuah nama yang didapat dari stiker bertuliskan Rockstar yang tergeletak.
Dari festival itu, mereka berhasil menjadi salah satu juara dan mendapatkan hak merekam satu lagu di dalam album kompilasi di bawah label Aquarius. ''Tapi, kemudian kita ditanya tentang lagu-lagu kita yang lain, ya kita kasih aja,'' kata Sony.

Ternyata, lagu-lagu tersebut mendapat respons sehingga mereka pun menggarap album Topeng Sahabat yang berhasil diluncurkan pada 2005. Nama semula, J-Rockstar, harus dipangkas agar mudah ditulis dan diucapkan. Maka, mereka pun cukup disapa J-Rocks.

Namun, perjalanan mereka ternyata tak selalu mulus. Penampilan dan aksi mereka disebut-sebut mirip L'Arc en Ciel, salah satu grup musik rock asal Jepang. Ada sebagian orang yang menganggap, dandanan sang vokalis sengaja dibuat mirip dengan Hyde, vokalis Laruku (sebutan untuk L'Arc en Ciel).

Untuk pendapat miring macam ini, mereka punya jawaban sendiri. ''Kita ini penggemar berat L'Arc en Ciel, dan kita juga berharap bisa manggung bareng mereka. Jadi, kalau ada yang menuduh kita peniru mereka ya terserah saja,'' kata Anton.

Bagi para personel, grup musik asal Jepang yang terbentuk tahun 1991 ini dapat membuka mata mereka terhadap jenis-jenis musik Jepang. Bahkan, karena band itulah, mereka kemudian bersatu membangun J-Rocks.
Dalam penggarapan musiknya, Anton menjelaskan, J-Rocks tidak pernah mematok sebuah aliran. Semua personel bebas mengekspresikan gayanya asalkan merasa nyaman. ''Kalau akhirnya yang keluar dibilang agak mirip dengan L'Arc en Ciel, itu natural saja,'' kata Anton.

Maklum, mereka adalah fans Laruku. Apalagi, mereka pun sempat membawakan lagu-lagu Laruku. ''Nah, karena kita terinspirasi, makanya apa yang kita keluarkan pasti ada warna mereka. Apa yang kita dengarkan, pasti akan terbawa saat kita bermusik,'' tambahnya.

Muse
Namun, untuk menambah khazanah bermusik, J-Rocks tidak melulu mendengarkan Laruku. Mereka juga terinspirasi dengan grup band asal Jepang lain seperti Sinaringo atau Gazette, termasuk pula satu band asal Inggris yang juga sangat mempengaruhi mereka: Muse.

Selama enam tahun bermusik bersama, sudah tiga album yang mereka keluarkan. Semua kental dengan nuansa Jepang, kecuali album terakhir mereka yang banyak mendapat pengaruh gaya bermusik orang Inggris.
Karena beragam pengaruh musik itu, J-Rocks mempunyai suatu ambisi untuk membuat penggabungan rasa musik Inggris dan Jepang. Dua lagu yang merupakan hasil dari ambisi itu adalah Mestinya Kau Akhiri Semua dan Selamat Tinggal Kekasihku.

Soal aliran bermusik, mereka lebih senang mengatakan bahwa semangat bermusik ala Jepang yang banyak memengaruhi J-Rocks. Semangat berupa keberanian musisi Jepang untuk mencampur aduk segala jenis musik dalam satu lagu yang menghadirkan inspirasi untuk J-Rocks. ''Mereka berani nyeleneh,'' kata Anton.

Tapi, apa sebenarnya makna huruf J di depan nama mereka? Adakah arti nyeleneh juga di dalamnya? Seraya tertawa kecil, Iman mengatakan huruf J di depan itu bisa punya beraneka makna. ''J itu bisa saja Jepang, Jakarta, atau Jejaka.'' kim


Konsultan Fashion Sampai Makeup Artist

Bukan cuma mengandalkan kepiawaian bermusik, J-Rocks juga mengutamakan performa di panggung untuk menarik perhatian. ''Ini yang kita namakan audiovisual,'' kata Sony.

Maka, tak perlu heran bila J-Rocks selalu menggunakan seragam khusus saat pentas. Untuk tetap mempertahankan konsep tersebut, kata Sony, mereka bahkan punya konsultan fashion sendiri untuk mendiskusikan penampilan J-Rocks. Bahan-bahan sampai potongan-potongan baju selalu dibicarakan untuk menunjang performa dan kenyamanan. ''Pernah gue pakai coat waktu konser panas-panas. Wah, bener-bener nggak nyaman,'' ujar Sony.

Pemilihan pakaian juga penting untuk Anton, sang drummer. Karena itulah, dia sering meminta bahan stretch yang membuat tangannya lebih leluasa. Gaya-gaya Jepang yang mereka tampilkan itu juga didukung oleh makeup artist yang selalu mengikuti ke mana saja mereka pergi. Hasilnya, tatanan rambut dan rias wajah khas Jepang sesuai keinginan J-Rocks. kim


Fallin' In Love di Abbey Road

Saat ditanyakan tentang lagu ini, Sony hanya tersenyum. Anton yang menjawab tentang lagu Fallin' In Love ini. ''Lagu ini sebenarnya simpel karena hanya tentang jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi ini berdasarkan kisahnya Sony,'' ujarnya.

Dulu, ketika ada acara ulang tahun teman, Anton melanjutkan, mereka berempat datang sama-sama. Saat itu ada seorang gadis cantik yang juga datang. ''Waktu itu Sony langsung bilang ke Wima, 'Wah kelihatannya gue jatuh cinta nih','' ujar Anton.

Namun, sampai mereka pulang, Sony tidak juga mengungkapkan perasaannya. Dia justru dituangkan dalam bentuk lagu. ''Saat itu masih na, na, na aja, liriknya belum digarap.''

Lagu itu pun terpendam hingga J-Rocks mengikuti Soundrenaline 2008. Berkat ajang itulah, J-Rocks pun terbang untuk rekaman di Abbey Road, London, Inggris.

Mendapatkan kehormatan sebesar itu, ternyata tidak mudah. Mereka hanya diberi kesempatan tiga hari untuk rekaman dan dua hari untuk mixing lagu. Waktu yang sangat sedikit untuk merekam banyak lagu. Agar bisa lebih maksimal, mereka memilih untuk merekam secara live. ''Padahal, kalau live itu berat banget, karena nggak boleh salah,'' kata Anton.

Dengan pilihan itu, dari tujuh lagu yang diserahkan hanya lima lagu yang berhasil direkam. Salah satunya adalah Fallin' In Love yang dibuat dua versi, Indonesia dan Inggris.

''Kita ingin lagu yang kita rekam di London ini bisa didengarkan semua orang dan Fallin' In Love-lah yang bisa mewakili itu. Makanya, kita langsung menggarap liriknya dengan serius,'' kata Anton.

Sebelum terbang ke Inggris, mereka mati-matian berlatih di studio Aquarius agar kesalahan saat rekaman bisa dikurangi. ''Kebetulan bentuk studionya sama. Kita juga membawa sound engineer dari Aquarius biar setting-nya bisa pas,'' lanjutnya.

Sesampainya di Abbey Road, mereka melakukan rekaman dari pukul 10 pagi sampai 10 malam. Hampir 12 jam mereka habiskan dalam studio yang konon biaya sewanya mencapai Rp 35 juta per satu jam. ''Kita di dalam mungkin ada 10 kali take untuk satu lagu dan kita pilih yang paling bagus hasilnya,'' kata Anton.

Dalam proses rekaman itu, mereka banyak dibantu oleh sound engineer asal Inggris, Chris Bolster. Sedangkan J-Rocks sendiri sengaja tidak ingin campur tangan terlalu banyak dalam penggarapan suara-suara dalam lagu-lagu mereka ketika itu. Semuanya dibiarkan mengalir apa adanya. Hasilnya, inilah lagu yang merajai tangga lagu Tanah Air.